large image
Mencuci Bahasa yang Kita Pakai
Sabtu Apr 6, 2013

“Apakah kata-kata yang hendak kita ucapkan adalah sesuatu yang benar, baik, dan berguna?

tutup mulutKita menggunakan bahasa sebagai alat yang vital dalam menjalin hubungan. Tetapi, tanpa bahasa yang ‘layak’ kita akan kesulitan dalam kehidupan ini. Sudah cukup banyak kegagalan yang dialami oleh seseorang. Pertama-tama, mungkin bukan karena potensi dirinya. Ia gagal bukan karena tidak memiliki kompetensi yang cukup. Sangat mungkin potensinya memadai dan kompetensinya juga tidak diragukan. Namun sayang, ia tidak mampu mencuci bahasa yang dipakainya. Kata-kata yang diucapkan tidak memberi nilai tambah pada dirinya. Kata-kata yang diucapkannya tidak tertata dengan baik, tidak menunjukkan kualitas yang pantas serta tidak memberikan kontribusi yang indah bagi kehidupan. Pribadi dengan model ini adalah pribadi yang asal bicara dan bicaranya tanpa pengujian.

Setelah semua terjadi, barulah dia menyesali yang pernah diucapkannya, tetapi semuanya sudah terlanjut. Kerusakan yang tidak pernah diharapkannya sudah terjadi, ia membuat image negatif bagi dirinya sendiri di hadapan orang lain. Kini, ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaikinya.

Mencuci bahasa yagn kita gunakan adalah ketika kita dengan sungguh-sungguh membuang kata-kata yang tidak perlu diucapkan dan menegaskan kata-kata positif yang dengan sengaja harus kita ungkapkan.

Mencuci bahasa adalah kesungguhan untuk memilih kata-kata yang kita pakai dengan berbagai pertimbangan, yaitu :

  • Apakah kata-kata yang hendak kita ucapkan benar, baik dan berguna? – atau jangan-jangan malah sebaliknya.
  • Apakah kata-kata yang kita ucapkan mencerminkan kesopanan dan kesantunan.

Pada kenyataannya orang tidak hanya memberikan penilaian pada content yang kita sampaikan, tetapi juga kata-kata yang menjelaskan content tersebut. Pemilihan kata yang tepat untuk menyampaikan content yang baik akan mendatangkan apresiasi.

Hal kedua yang hendak saya sampaikan adalah kata-kata yang kita sampaikan juga memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubahkan. Kata-kata yang baik akan memberikan sugesti yang baik bagi mereka yang mendengarkannya. Saya memiliki kisah untuk hal tersebut.

Dikisahkan suatu hari minggu, seorang putra altar membantu imam dalam perayaan ekaristi di gereja kecil sebuah desa di Eropa. Karena gugup dalam menjalankan tugasnya, tanpa sengaja dia menumpahkan cawan anggur. Sang pastor dengan marah menampar pipi anak itu dan dengan suara nyaring ia memarahi anak kecil itu, “Tinggalkan altas dan jangan kembali,” begitu kata sang pasrot. Anak itu tidak pernah kembali. Ia tumbuh dan menjadi seorang ateis. Di kemudian hari ia menjadi pemimpin komunis Yugoslavia. Ia adalah Joseph Broz Tito

Sementara di tempat lain, seorang putra altar tanpa sengaja menumpahkan anggur ekaristi dari cawannya. Sang uskup memandang anak itu dengan lembut. Sambil tersenyum dia berbisik dekat-dekat telinga anak kecil itu dan berkata, “Suatu ketika kamu akan menjadi imam.” Anak itu tumbuh, dan di kemudian hari ia menjadi Uskup Agung yagn mendapat gelar Servorum Dei (satu tingkat sebelum seseorang diberi gelar santo). Ia adalah Uskup Agung Falton J. Sheen.

Mencuci bahasa yang kita pakai akan membuat diri kita menjadi lebih bermakna. Hal yang kita ucapkan membuat diri kita pantas didengarkan oleh banyak orang. Dengan apa yang kita ucapkan, kita juga mampu mengubahkan orang lain.

Untuk itu, baiklah kita menjadi pribagi yang cepat mendengarkan dan lebih berhati-hati dalam berkata-kata. Ingatlah, “Apa yang sudah terlanjur kita ucapkan akan menjadi pahatan yang sulit dihapuskan di telinga siapa pun yang mendengarkannya.”

Majalah Bahana edisi April 2013

Leave a Reply

Comment